Psikologi Kelompok & Psikologi Sosial

October 2, 2010

Beberapa ahli berpandangan bahwa kelompok merupakan sesuatu yang riil yang dapat diperlakukan sebagai objek di dalam lingkungan kita (Durkheim, 1898; Warriner, 1996). Sejalan dengan pandangan ini adalah pandangan yang mendukung bahwa perilaku sosial lebih dapat dijelaskan dengan menekankan keunikan proses-proses kelompok dari pada dijelaskan dalam tingkat individu.

Dengan demikian sebuah kelompok itu lebih dari sekedar kedatangan secara kebetulan orang-orang yang bersama-sama berbagi ide. Sebagai contoh, sebuah kerusuhan yang terjadi setelah selesainya pertandingan sepak bola. Interaksi sosial seperti ini hanya dapat dipahami dengan menganalisa perilaku dalam tingkat kelompok, sebagai balikan dari tingkat individual. Untuk memahami perilaku sosial perlu mempertimbangkan kelompok sebagai suatu identitas yang nyata karena keanggotaan dalam kelompok merupakan bagian integral dari konsep diri (Tajfel, 1982).

Kelompok Sosial

Kelompok social adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial serta ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada.

Jenis Kelompok Sosial :

  • Kelompok Primer : Merupakan kelompok yang didalam kelompoknya terjadi interaksi social yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan dekat dalam kehidupannya.
  • Kelompok Sekunder : Dalam kelompok ini hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih obyektif. Interaksi social terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan.
  • Kelompok Formal : Kelompok dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Biasanya anggotanya diangkat oleh organisasi.
  • Kelompok Informal ; Merupakan kelompok yang bterbentuk dari proses interaksi, daya tarik dan kebutuhan-kebutuhan. Keanggotaan kelompok biasanya tidak teratur pembagian tugas jelas tapi bersifat informal berdasarkan kekeluargaan dan simpati.

Sumber :

  1. Klara Innata Arishanti, 2006 (potokopi psikologi social).
  2. http://dinamika-ok.blogspot.com

Diet untuk Anak Special Needs

May 29, 2010

Dalam beberapa pertemuan de­ngan komunitas orang tua anak ber­kebutuhan khusus di Jakarta, ternyata diit merupakan salah satu hal yang menjadi topik menarik. Mengapa de­mikian?. Karena selama ini banyak sekali je­nis dan permasalahan yang ada pada anak ber­kebutuhan khusus. Selain itu, banyak orang tua yang melakukannya dengan me­raba-raba tanpa panduan dokter atau ahli gizi.

Banyak kata-kata yang me­nge­­sankan ke­putusasaan yang dilontarkan oleh pa­­ra orang tua, seperti “Anak sa­­ya ha­rus ber­diit?”, “Aduh re­­pot sekali ya!”, “Apa saya mampu me­lak­sa­nakannya?”, “Sampai be­ra­pa la­ma ini ha­rus di­­la­ku­kan?”, diet“Kemana sa­­ya harus ber­­kon­sul­ta­si jika ada per­ma­salahan?”.
Mengapa kata-kata diatas se­­lalu ter­lon­tar?. Karena bagi se­­­bagian besar ma­­syarakat di In­donesia, diit masih me­ru­­­pa­­kan hal yang “istimewa” dan ma­sih me­ru­pakan be­ban yang sa­ngat berat. Ba­nyak aturan. Ini tidak boleh, itu tidak boleh, harus be­gini, harus begitu.
Apakah benar diit me­re­pot­kan?. Apa sih diit itu?. Diit ada­lah pengaturan ma­­ka­nan se­suai dengan keadaan dan ke­­bu­tu­han seseorang, agar di­per­oleh tingkat ke­sehatan yang optimal. Apa­bila kita li­­hat definisi diatas, se­be­narnya berdiit itu bu­kanlah hal yang “istimewa”, karena se­ha­rus­­nya dila­kukan oleh semua orang yang meng­­­inginkan kesehatannya optimal. Bu­­­kan­­kah kita semua ingin memiliki kese­hat­an yang optimal?.
Kembali pada anak berkebutuhan khu­­­sus. Ada beberapa kiat yang da­pat dila­ku­kan orang tua agar pe­nye­leng­ga­raan di­it tidak menjadi beban dan anak dapat ber­­di­it dengan senang, yaitu:

1. Memahami tujuan diit.
Tujuan diit harus dipahami dengan be­­nar oleh orang tua, anak dan se­­luruh angg­ota keluarga. Hal ini me­ru­pakan lang­kah awal yang sangat pen­ting, karena de­ngan dipahaminya tu­juan diit, akan tim­bul motivasi yang kuat dari orang tua, anak dan se­luruh angota keluarga untuk da­pat men­du­kung dan melaksanakan di­it yang ada. Dengan ini, diharapkan diit da­pat di­laksanakan dengan benar dan ber­ke­si­nambungan.
Tujuan diit ada 2 macam, yaitu:
a. Tujuan jangka pendek, untuk mem­per­ba­­iki keadaan yang sifatnya se­men­tara dan cepat.
b. Tujuan jangka panjang, merupakan ke­lan­­jutan tujuan jangka pendek. Untuk mem­perbaiki kebiasaan ma­kan, agar diperoleh tingkat ke­se­ha­t­an yang op­timal.

2. Menerima dan menyayangi diri apa adanya.
Hal ini berlaku untuk anak, orang tua dan keluarga. Menerima artinya ikh­las dan ber­besar hati akan semua ke­adaan yang di­karuniakan Allah pa­­da­nya. Bersyukur ke­pa­da Allah kare­na masih banyak orang yang lebih su­sah darinya. Menyayangi ar­ti­nya ber­ke­inginan untuk terus menerus mem­per­ba­iki diri kearah yang lebih baik. Se­lalu ber­pola hidup positip, baik dalam hal pikiran maupun tingkah laku.
Dengan keadaan ini diharapkan har­ga di­ri dan martabat anak akan ter­ben­tuk dan anak tidak merasa menjadi anak yang “is­timewa”, anak menjadi le­bih mandiri, berani dan terbuka. Yang paling penting, anak akan berani me­nge­­mukakan masalah-ma­sa­lah­nya ser­­­ta belajar untuk berinteraksi de­ngan lingkungannya. Keadaan ini akan mem­­­bentuk ko­mu­ni­kasi yang baik an­tara anak, orang tua dan ke­luarga. Ke­semuanya ini akan membuat anak, orang tua dan ke­luar­­ga dapat dengan te­­nang dan senang men­­jalani apa yang ha­rus dilakukannya, ter­­masuk da­lam hal ini berdiit.

3. Dukungan keluarga sepenuhnya.
Dukungan keluar­ga sangat mem­pe­nga­­­­ru­hi keberhasilan pe­laksaan diit. Un­­­­tuk mem­permudah pe­­lak­­sanaan di­it, se­­ba­ik­nya ma­kanan atau me­nu ke­luarga di­se­suaikan de­ngan je­nis ma­kanan yang baik untuk anak ber­ke­butuhan khu­sus. Dengan ini anak ti­dak merasa di “isti­mewakan”, tidak me­ra­sa dikucilkan dan tidak merasa asing de­­ngan keluarganya.

4. Konsumsi makanan sehat, seimbang dan variatif.
Orang tua harus banyak berkreasi da­­lam memvariasikan jenis menu dan ba­han makanan. Untuk menentukan jenis me­­­nu dan bahan makanan, sebaiknya orang tua mempertimbangkan sifat-sifat anak berkebutuhan khusus ini se­per­ti ce­pat bosan, banyak gerak, sulit di­kontrol dan lain-lain, maka contoh menu yang di­anjurkan adalah:
a. Makanan besar
Pilihlah menu ma­ka­n­an besar yang prak­­­­­tis, cepat saji dan ce­­pat santap, se­perti nasi goreng, bubur Ma­­nado, bu­bur ayam dan lain-lain.
b. Makanan kecil
Pilih menu ma­kan­an kecil yang prak­tis dan cepat santap, se­­perti arem-arem, sko­­tel, roti bakar dan lain-lain.
c. Buah
Pilih buah yang ber­­­aneka warna dan ber­aneka ra­sa tetapi mu­dah me­ma­­­kan­nya, seperti sate buah, jus buah, es buah dan lain-lain. Dengan ini di­ha­rapkan anak dapat mengkonsumsi ber­aneka ragam buah dalam waktu yang ber­samaan.

Pilihlah bahan makanan yang baik, ya­itu ba­­han makanan yang segar, me­narik dan ba­­ru. Hal ini diperlukan, ka­rena sangat ber­­pengaruh terhadap ra­sa dan bentuk ma­kan­an yang di­sa­ji­kan.
Hal lain yang harus diperhatikan ada­lah ben­­tuk, warna dan tekstur dari ma­kanan yang disajikan. Ini sangat ber­pengaruh ter­hadap selera makanan anak. Apalagi selera makan anak ber­kebutuhan khusus sangat cepat se­ka­li berubah. Orang tua harus ra­jin meng­ingat dan mencatat, makanan de­ngan bentuk, warna dan tekstur yang ba­­gaimana yang disukai anak. Hal ini akan mempermudah orang tua dalam pe­­nyusunan menu berikutnya.

5. Libatkan anak dalam menentukan menu.
Dengan keterlibatan anak ini, ma­ka se­cara tidak langsung kita meng­ajarkan anak untuk bertanggung ja­wab terhadap pi­lihannya. Anak juga di­ajar­kan untuk belajar me­mutuskan se­sua­tu.

6. Mempelajari efek bahan makanan yang baik bagi anak.
Pengetahuan akan manfaat dari se­mua ba­han makanan yang baik bagi anak, di­harapkan timbul rasa syukur da­ri anak dan orang tua bahwa sangat ba­nyak b­ahan makanan yang dapat di­konsumsi, ma­sih banyak bahan ma­kanan yang dapat di­pi­lih, dan masih ba­nyak bahan makanan ke­su­ka­an anak yang boleh dikonsumsi.
Dengan kiat ini, diharapkan orang tua dapat dengan senang dan ringan, se­­ti­dak­nya memberikan secercah mo­ti­vasi untuk me­nyelenggarakan diit ba­gi anaknya. Se­l­ain itu, diharapkan anak akan dengan se­nang dan riang meng­konsumsi makanan yang disediakan.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi ki­ta semua, terutama para orang tua yang di­karuniakan anak ber­kebutuhan khusus. •

http://anakspesial.blogdetik.com/

Macam – macam terapi anak autis

May 29, 2010

1. Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa mensimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
2. Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara.
3. Terapi balur. Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
4. Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.
5. Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain.
6. Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.

http://www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

May 29, 2010
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhan­keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
TERAPI
Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap.  Medikasi anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan.

Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

REAKSI STRES AKUT

May 29, 2010
Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut.
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku” , semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 – 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.


Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

May 29, 2010
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
PEDOMAN DIAGNOSIS
= Pikiran, impuls, yang berulang
= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
DIAGNISIS BANDING
Kondisi fisik
– Gangguan neurologis (epilepsi lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik
– Skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, gangguan depresif.
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 – 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.


Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA

May 29, 2010
Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari: – pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk)

Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.

PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA

  1. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:
    • mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain
    • respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
  2. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
    • rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
    • Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
    • berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
    • penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
    • reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik
  3. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
  4. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih berikut:
    kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut
    yang berlebihan.
  5. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
  6. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

GANGGUAN FOBIK

May 29, 2010
Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita gangguan ini.  FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di depan umum, dsb
PEDOMAN DIAGNOSTIK
  • Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
  • Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
  • Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
  • Situasi fobik dihindari
TERAPI
Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik.  Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap.

Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

GANGGUAN PANIK

May 29, 2010
  • Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
GAMBARAN KLINIS
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk  mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
GEJALA PENYERTA
Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik.  Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental.
DIAGNOSA BANDING
Penyakit kardiovaskuler : anemia, hipertensi, infark iniokardium, dsb.
Penyakit pulmonum : asma, hiperventilasi, emboli paru-paru.
Penyakit neurologis : penyakit serebrovaskular, epilepsi, inigrain, tumor, dsb.
Penyakit endokrin : diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi, sindroma pramestruasi, gangguan menopause, dsb.
lntoksikasi obat, putus obat.
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan elektrolit, keracunan logam berat, uremia dsb
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA
  • Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
  • Situasi dihindari, misal jarang bepergian
  • Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia sosial
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK
  • Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
  • Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan
  • Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
  • Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan obsesif – kompulsif.
  • Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia
TERAPI
Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik, akan berlalu.
Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.

Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm

BENTUK GANGGUAN ANXIETAS

May 29, 2010
  • Gangguan Panik
  • Gangguan Fobik
  • Gangguan Obsesif-kompulsif
  • Gangguan Stres Pasca Trauma
  • Gangguan stres Akut
  • Gangguan Anxietas Menyeluruh.

Sumber: http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_anxietas.htm